PENGARUH PEMBELAJARAN DENGAN KELOMPOK TERHADAP KETERAMPILAN SOSIAL ANAK PADA KELOMPOK B TK TUNAS MEKAR PALANGKA RAYA

Oleh:

  Sophia Oktavia Balimulia M.Si

Dosen PG PAUD FKIP Universitas Palangka Raya

Abstrak: Muhibin dalam  Nugraha dan Rahmawati ( 2008)  mengatakan bahwa perkembangan sosial merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya. Sedangkan Hurlock (1978) mengutarakan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Pengembangan kemampuan sosial anak usia dini dapat diajarkan melalui kegiatan pembelajaran dengan kelompok, karena melalui kegiatan ini anak dapat belajar berinteraksi secara intesif dengan anak lain dan belajar mengenal aturan dan norma yang ada dalam kelompok.

Kata Kunci: Keterampilan Sosial, Pembelajaran dengan Kelompok

Download Full Article PDF

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN

Oleh:

  Sogi Hermanto

Dosen Prodi Manajemen Pendidikan FKIP Universitas Palangka Raya

Abstrak: Keberhasilan peningkatan Mutu Pendidikan di sekolah sangat dipengaruhi oleh peran kepemimpinan Kepala Sekolah dalam kebijakan yang diambilnya, untuk meningkatkan mutu sekolah diperlukan dukungan kepemimpinan kepala sekolah dan manajemen sekolah yang efektif.  Kepemimpinan yang dimiliki seorang Kepala sekolah adalah suatu kemampuan kepemimpinan yang bisa memprediksi tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kekuatan-kekuatan yang dimiliki, peluang-peluang yang ada, tantangan-tantangan yang harus dihadapi, ancaman-ancaman yang sekiranya muncul dalam memajukan lembaga pendidikan serta kemampuan mempengaruhi orang lain melalui interaksi individu dan kelompok sebagai wujud kerja sama dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien.
Penelitian ini bertujuan untuk: mengetahui  peran kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dasar negeri 5 menteng kota Palangka Raya, meliputi: (a) mendeskripsikan nilai-nilai peran kepemimpinan kepala sekolah yang tercermin dalam meningkatkan mutu pendidikan, (b) mendiskripsikan pelaksanaan peran kepemimpinan Kepala sekolah terhadap komponen manajemen sekolah dari sarana pasarana, kesiswaan, tenaga kependidikan, kurikulum dan program pengajaran, keuangan dan pembiayaan, serta hubungan sekolah dengan masyarakat, dan (c)  mendiskripsikan  faktor pendukung dan kendala peran kepeminmpinan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif, dan rancangan dalam penelitian ini menggunakan studi kasus. Sumber data diperoleh dari 4 responden, Kepala Sekolah, wakasek sarana dan prasarana, wakasek humas dan kesiswaan, dan guru.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa,  nilai-nilai kepemimpinan kepala sekolah yang tercermin dalam peningkatan mutu pendidikan adalah kepala sekolah menerapkan kepemimpinan dengan pendekatan dari hati-kehati saling menghargai, keteladanan, kerjasama tim yang baik dengan bawahannya untuk mencapai tujuan yang ditetapkan sekolah. Komponen manajemen sarana dan prasarana, kepala sekolah sangat berperan dalam hal pemenuhan sarana dan prasarana di sekolah antara kepala sekolah dan wakasek bagian sarana prasarana serta guru dan orang tua saling bekerja sama guna untuk dapat mengadakan  kelengkapan sarana prasarana disekolah demi memperlancar proses belajar peserta didik. Komponen manajemen peserta didik, kepala sekolah memperhatikan keadaan peserta didik, memperhatikan guru-guru yang mengajar di kelas, serta kelengkapan data peserta didik dan orang tua peserta didik.  Komponen manajemen  tenaga kependidikan, kepala sekolah memberikan pendidikan dan pelatihan tambahan bagi tenaga kependidikan yang masih kurang mampu dalam memberikan pelajaran  disekolah untuk meningkatkan profesionalismenya. Komponen manajemen  kurikulum dan program pengajaran kepala sekolah membentuk tim pengembangan kurikulum sekolah, membuat kurikulum muatan lokal. Komponen manajemen keuangan dan pembiayaan pihak sekolah membuat RAKS (Rencana Anggaran Kegiatan Sekolah) untuk mengetahui keperluan yang dibutuhkan sekolah; membuat laporan secara transparan sumber dana yang masuk ke sekolah supaya pihak-pihak yang terkait  didalamnya dapat mengetahuinya. Jika ada dilakukan pungutan biaya kepada peserta didik harus tertera kegunaannya sehingga orang tua peserta didik mengetahuinya. Komponen manajemen hubungan sekolah dengan masyarakat,  hubungan sekolah dengan masyarakat sangat erat terutama pada pihak komite sekolah, orang tua peserta didik, dan masyarakat terlibat langsung dalam sekolah, ada berapa kegiatan sekolah yang dapat dilakukan dengan masyarakat misal perayaan hari besar keagamaan paskah, Isra Miraj, begitu juga keagamaan Hindu, pihak sekolah mengundang orang tua peserta didik untuk berpartisipasi dalam hari besar di sekolah, mengadakan rapat dengan orang tua peserta didik untuk membahas program-program sekolah.  Faktor pendukung Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan:
(1) kemauan dari pihak sekolah terutama kemauan motivasi kepala sekolah yang tinggi, (2) dukungan dari guru-guru, penjaga sekolah, satpam, dukungan dari komite dan orang tua peserta didik, pengawas pembina, dukungan dari pihak-pihak terkait Dinas Pendidikan, dukungan dari pihak instansi lain baik pemerintah maupun instansi swasta, dan (3) kerjasama yang baik antar pihak-pihak yang terkait.
Faktor kendala Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan, (1) faktor kepala sekolah  itu sendiri dalam memahami visi misi sekolah, (2) faktor orang tua peserta didik yang kurang   memahami tentang pendidikan yang hanya diserahkan pada sekolah, (3)    faktor  guru-guru  yang tidak bisa bekerja sama dengan baik, kurang   memahami tugas dan fungsinya, (4) faktor sumber biaya untuk kebutuhan penunjang sarana dan prasarana di sekolah masih belum memadai.

Kata Kunci: Kepemimpinan, Kepala Sekolah, Mutu Pendidikan

Download Full Article PDF

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

PERAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI ERA GLOBALISASI DALAM MENCEGAH DEGRADASI MORAL

Oleh:

   Sakman

Dosen Prodi PPKn FKIP Universitas Palangka Raya

Abstrak: Dalam era globalisasi saat ini dengan adanya saling keterbukaan dan ketergantungan antar negara menjadikan negara tidak mengenal batas-batasnya sehingga arus informasi dan telekomunikasi pun berkembang sangat pesat maka persaingan Internasional pun akan semakin ketat terutama di bidang ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan keamanan dan pendidikan, khususnya bagi Indonesia era globalisasi ini tidak hanya mengarah pada kepentingan dalam negeri akan tetapi juga mengarah pada kepentingan global sehingga terdapat peluang yang dimiliki oleh negara berkembang khususnya indonesia Dengan adanya pengaruh globalisasi yang tidak disertai dengan penguatan pendidkan karakter bagi pelajar telah mengakibatkan terjadinya kemerosotan moral bagi generasi muda bangsa. Hal ini tidak boleh dibiarkan terjadi, untuk itu pendidikan kewarganegaraan sebagai bagian dari pendidikan karakter berperan penting untuk menurunkan kemerosotan moralitas pelajar diera globalisasi saat ini, dengan membangun dan membentuk karakter pelajar sesuai dengan yang tercantum dalam UUD 1945 dan pancasila.

Kata Kunci: Globalisasi, Degradasi Moral

Download Full Article PDF

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

KURIKULUM MUATAN LOKAL TINGKAT SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KALIMANTAN TENGAH

Oleh:

  Reddy Siram

Dosen FKIP Universitas Palangka Raya
Email: reddysiram@yahoo.com

Abstrak: Luas Provinsi Kalimantan Tengah yang mencapai 153.800 km persegi atau (1,5 kali pulau Jawa) dengan jumlah penduduk 2,3 juta orang ditambah kondisi sumber daya alam yang sangat baik dalam melakukan kegiatan bercocok tanam, khususnya tanaman karet dan rotan, membuat Kalimantan Tengah memiliki ciri khas tersendiri sebagai salah satu provinsi penghasil karet dan rotan terbesar yang ada di Indonesia. Mengingat potensi daerah yang begitu besar dalam hubungannya dengan kegiatan pertanian karet dan rotan tersebut dan juga didasarkan atas kesempatan bagi para siswa yang terbatas untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi (perguruan tinggi), maka hendaknya pada sekolah-sekolah di daerah perlu dikembangkannya suatu kurikulum muatan lokal yang disesuaikan dengan keadaan alam dan potensi daerah. Untuk itu, di Sekolah Menengah Atas yang ada di Kalimantan Tengah perlu adanya suatu kurikulum muatan lokal yang mengacu kepada keterampilan cara pertanian bercocok tanam karet dan rotan sebagai salah satu cara dalam melestarikan budaya kearifan lokal pertanian yang ada di Kalimantan Tengah.
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan kurikulum muatan lokal tingkat Sekolah Menengah Atas khususnya untuk bidang keterampilan pertanian bercocok tanam karet dan rotan yang dapat diaplikasikan pada seluruh Sekolah Menengah Atas yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah serta menemukan sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pengembangan muatan lokal dalam kurikulum Sekolah Menengah Atas di Provinsi Kalimantan Tengah.

Kata Kunci:  Kurikulum Muatan Lokal, Sekolah Menengah Atas

Download Full Article PDF

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

OLAHRAGA TRADISIONAL MENYIPET DAN BALOGO DI MASYARAKAT KOTA PALANGKA RAYA

Oleh:

  Abd Rahman Azahari

Dosen FKIP Universitas Palangka Raya

Abstrak: Budaya masa lalu sudah sepatutnya dilestarikan dan dikembangkan disamping sebagai kekayaan budayaan juga bisa sebagai objek pariwisata. Festival budaya sebagai salah satu bentuk pelestarian disamping juga bentuk promosi berbagai budaya yang ada untuk kepentingan pengembangan pariwisata. Salah satu kekayaan budaya lokal atau tradisional adalah olahraga tradisional menyipet dan balogo. Dalam tataran konsep dan atau perencanaan langkah pemerintah kota dalam mengembangkan dan melestarikan olahraga tradisional menyipet sudah cukup baik, sebab sudah dimasukan dalam kurikulum muatan lokal, sudah ada kegiatan invitasi, pemenang dari invitasi  mewakili pemerintah kota untuk mengikuti Festival Budaya Isen Mulang, dan pemenangnya dikirim mengikuti kejuaraan tingkat Kalimantan yaitu dalam Internasional Borneo Sipet Tournament (BOST)  yang diselenggarakan di Pontianak Provinsi Kalimantan Barat yang  juga akan dipromosikan di tingkat ASEAN Tourism Forum (ATF).
Adapun rumusan masalahnya adalah (1)  bagaimana kegiatan olahraga tradisional menyipet dan balogo di masyarakat Kota Palangka Raya ? dengan fokus pertama festival dan upaya pelestarian yang meliputi: Festival menyipet dan balogo, Invitasi menyipet dan balogo, Kurikulum menyipet dan balogo, Pengembangan menyipet dan balogo. Fokus kedua meliputi pengembangan kemampuan yang terdiri dari beberapa indikator, yaitu: Kemampuan teknik, kemampuan strategi, kemampuan taktik. Fokus ketiga adalah pendidikan budaya yang meliputi sikap sportivitas dan sikap ksatria. Fokus ke empat pengembangan keterampilan psikososial yang meliputi komunikasi dan empati. Masalah kedua adalah kegiatan olahraga tradisional menyipet dan balogo di masyarakat Kota Palangka Raya dengan fokus faktor internal dan eksternal.
Melalui pendekatan kualitatif dengan model penelitian grounded, dan analisis coding dengan teknik penarikan informan purposive sampling. Berdasarkan analisis tersebut maka dihasilkan beberapa temuan, proposisi minor dan proposisi mayor yaitu: Terbatasnya dukungan dana, sarana prasarana, koordinasi antar institusi pemerintah, kemajuan tekhnologi dan globalisasi berakibat pada menurunnya semangat berlatih dan berprestasi dan terjadinya pergeseran dari olahraga tradisional yang bermotif religi menjadi olahraga tradisional yang bermotif prestasi dan keuntungan.
Adapun yang menjadi kesimpulan dalam penelitian ini adalah:
1.  Olahraga tradisional  menyipet  dan  balogo  merupakan kekayaan budaya masyarakat Dayak di Palangka Raya dan sering diikutsertakan dalam Festival Budaya Isen Mulang.
2.  Menyipet dan Balogo sarat dengan berbagai ajaran dan nilai-nilai luhur.
3.  Upaya pelestarian dan pengembangan budaya lokal melalui berbagai festival dan memasukan ke dalam kurikulum muatan lokal.
4. Upaya pelestarian dan pengembangan kurang didukung oleh dukungan dana, kelengkapan fasilitas dan sarana/prasarana, kegiatan pendidikan  dan latihan bagi guru.
5.  Kurangnya invitasi, olahraga tradisional menyipet dan balogo hanya ada pada acara perayaan ulang tahun kota Palangka Raya dan Festival Budaya Isen Mulang saja.
6.  Para pemain olahraga menyipet dan balogo  rata-rata sudah tua, sehingga secara perlahan olahraga tersebut akan musnah seirama dengan semakin tuanya para pemainnya.
7.  Generasi muda kurang menyenangi olahraga tradisional menyipet dan balogo sebab tidak bisa diharapkan untuk menjadi pekerjaan atau sandaran hidup dimasa mendatang.
8.  Kendala-kendala yang dihadapi dalam kegiatan olahraga tradisional menyipet dan balogo di masyarakat Kota Palangka Raya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kendala internal dan kendala eksternal. Kendala internal misalnya adalah monoton, nilai kreativitas rendah, dan membosankan, memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Kendala eksternalnya antara lain kurang adanya koordinasi antar instansi, Dinas Pendidikan (Kurikulum), kepelatihan yang profesional, keterbatasan sarana prasarana latihan.
Implikasi penelitian sebagai berikut: ditinjau dari aspek tindakan sosial, maka hasil penelitian ini memperkuat teori tindakan sosial Parsons, yaitu “semua tindakan sosial yang dilakukan oleh pemain olahraga tradisional, pemerintah kota, siswa dan guru di kota Palangka Raya dalam olahraga tradisional menyipet dan balogo selalu mendasarkan kepada suatu tujuan yang telah ditentukan, yaitu untuk meraih prestasi dalam Festival Budaya Isen Mulang yang diadakan setahun sekali se Provinsi Kalimantan Tengah.
Ditinjau dari teori tindakan sosial Max Weber dan teori interaksionis simbolik Hebert Mead, maka hasil penelitian ini memperkuat pandangan Weber dan Mead, bahwa “Setiap tindakan yang dilakukan individu maupun kelompok selalu dipikirkan aspek positif dan negatif yang akan terjadi dari tindakan tersebut, dan kemampuan memprediksi ke depan, meskipun dalam bentuk sederhana, sesuai dengan tingkat pengetahuannya.
Ditinjau dari teori interaksionis simbolik, maka hasil penelitian ini memperkuat pandangan Mead, bahwa  tindakan masyarakat kota Palangka Raya dalam proses mengembangkan dan melestarikan olahraga tradisional menyipet dan balogo sangat dipengaruhi realita di lapangan dan berpikir logis kedepan tentang olahraga tradisional tersebut serta proses interaksi diantara mereka dalam lingkungan atau komunitasnya. Teori fenomenologi selalu berusaha untuk memahami budaya lewat pandangan pemilik budaya atau pelakunya.
Terdapat tiga gejala kebudayaan yakni ideas, activities, dan artifact. Ketiga gejala kebudayaan ini jika diperhatikan sejajar dengan tiga wujud kebudayaan sebagaimana tercantum dalam definisi kebudayaan Koentjaraningrat. Ideas (gagasan-gagasan) sejajar dengan sistem gagasan,  activities (aktivitas) sejajar dengan tindakan, dan terakhir artifact yang seanalog dengan hasil karya manusia.

Kata Kunci: Interaksi Sosial, Tindakan Sosial dan Olahraga Tradisional

Download Full Article PDF

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

PERSEPSI KARYAWAN TERHADAP PEMBERIAN KOMPENSASI PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) KOTA PALANGKA RAYA

Oleh:

  Nur Muhammad 1)  Tonich Uda 2)  dan Rinto Alexandro 3)

Prodi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Palangka Raya

Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi karena manusia sebagai salah satu sumber daya dalam perusahaan mempunyai peranan sangat penting dibandingkan dengan sumber daya lainnya, karena manusia merupakan faktor penggerak dari seluruh kegiatan perusahaan. Perusahaan harus dapat memberikan perhatian lebih terhadap tenaga kerjanya. Salah satu upaya yang harus dilakukan untuk memotivasi dan memberikan kepuasan karyawan adalah melalui kompensasi. Bila kompensasi disusun secara adil dan benar para karyawan akan merasa puas dan termotivasi untuk mencapai sasaran dan tujuan organisasi. Bentuk-bentuk kompensasi yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan karyawan. Organisasi dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut melalui sistem kompensasi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dimana data yang berhasil peneliti kumpulan dari lokasi penelitian, selanjutnya dianalisa dan kemudian disajikan secara tertulis dalam laporan tersebut, yaitu berupa data yang ditemukan dari observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil penelitian yang dilakukan di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Palangka Raya mengenai persepsi karyawan terhadap pemberian kompensasi pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Palangka Raya sangatlah penting. Hal ini ditunjukan dengan hasil wawancara yang telah peneliti lakukan yaitu sebagian besar mengatakan bahwa kompensasi yang diberikan perusahaan sudah dapat dikatakan baik dan adil serta sudah memenuhi kebutuhan karyawan sebagai penunjang kinerjanya. Disamping itu pihak yang berwenang yang mengatur jalannya sistem kompensasi ini hendaknya lebih memperhatikan lagi sistem kompensasi pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Palangka Raya. Misalnya tidak hanya jenis kompensasi Non-Finansial saja, melainkan adanya kompensasi Finansial.
Tujuannya sebagai perangsang minat dan semangat kerja dari semua karyawan agar dapat bekerja lebih baik serta memberikan kontribusi lebih bagi kemajuan perusahaan.

Kata Kunci: Persepsi, Karyawan, Kompensasi

Download Full Article PDF

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENGERJAKAN SOAL CERITA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA MELALUI METODE BERMAIN KARTU BAGI SISWA KELAS VI SDN MANTAREN 1

Oleh:

  Ramikayani, S.Pd

Guru SDN Mantaren 1 Kabupaten Pulang Pisau

Abstrak: Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Mengerjakan Soal Cerita Pada Mata Pelajaran Matematika Melalui Metode Bermain Kartu Bagi Siswa Kelas VI SDN Mantaren 1.
Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode bermain kartu soal terhadap peningkatan kemampuan mengerjakan soal cerita pada pelajaran matematika kelas VI SDN Mantaren 1.
Hipotesis pada penelitian ini adalah “Model pembelajaran dengan menggunakan kartu soal diduga dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas VI SD Negeri Mantaren 1 Tahun Pelajaran 2013/2014 dalam mengerjakan soal cerita pada mata pelajaran matematika.”
Subjek yang diberi tindakan adalah siswa kelas VI SDN Mantaren 1 Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 14 peserta didik dan terbagi atas 6 kelompok. Bentuk tindakan yang diberikan adalah dengan menggunakan kartu soal yang digunakan untuk menuliskan soal cerita kemudian dibahas oleh siswa secara berkelompok selanjutnya dibahas secara bersama antara guru dan siswa. Untuk mengetahui adanya peningkatan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal cerita dilakukan tes uji coba yang dilaksanakan dua kali kemudian hasilnya dianalisis. Hasil penelitian secara deskriptif menunjukkan bahwa kecenderungan prestasi belajar matematika siswa kelas VI SDN Mantaren 1 ada peningkatan, yakni dengan perolehan skor rata – rata sebelum diadakan tindakan sebesar 5,97 dan
setelah diadakan tindakan menjadi 6.65 dengan demikian berarti ada peningkatan prestasi sebesar 0.68.

Kata Kunci: Kemampuan siswa, Soal Cerita

Download Full Article PDF

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

PERGULATAN ELITI LOKAL KAHARINGAN DAN HINDU KAHARINGAN – REPRESENTASI RELASI KUASA DAN IDENTITAS

Oleh:

  Linggua Sanjaya Usop

Dosen Prodi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Palangka Raya

Abstrak: Tulisan ini bertujuan membahas pergulatan elite lokal tokoh Kaharing dan Hindu Kaharingan dalam masyarakat Dayak Ngaju yang menimbulkan pertentangan tentang jati diri dan identitas Kaharingan. Digunakan pendekatan Kajian Budaya [Cultural Studies] bersifat interdisipliner untuk menyingkap tabir permasalahan, terutama melalui analisa teori hegemoni oleh Gramsci dan teori praksis oleh Bourdieu. Ternyata proses peminggiran terhadap agama asli orang Dayak Ngaju tersebut bersumber pada  konstruksi serta  kebijakan negara tentang hanya ada 6 agama yang sah diakui sebagai agama resmi Indonesia.

Kata Kunci:  Identitas, Kaharingan dan Hindu Kaharingan

Download Full Article PDF

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

KESESUAIAN BUTIR SOAL BUATAN GURU DENGAN TUJUAN PEMBELAJARAN EKONOMI DI SMA NEGERI 1 KATINGAN TENGAH

Oleh:

  Erlin Diana Noor 1)  Jairi 2)  dan Eriawaty 3)

Prodi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Palangka Raya

Abstrak: Dalam proses pembelajaran menggunakan tes merupakan salah satu bentuk instrumen yang digunakan untuk melakukan pengukuran, tujuan melakukan tes adalah untuk mengetahui pencapaian belajar atau kompetensi yang telah dicapai peserta didik untuk bidang tertentu. Guru seharusnya dalam pembuatan butir soal harus sesuai dengan indikator dan tujuan pembelajaran kompetensi dasar pada kurikulum yang berlaku. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian butir soal buatan guru dengan tujuan pembelajaran ekonomi kelas X semester genap tahun ajaran 2015/2016 di SMA Negeri 1 Katingan Tengah.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Metode deskriptif adalah metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas. Subjek penelitiannya adalah Guru mata pelajaran
Ekonomi di SMA Negeri 1 Katingan Tengah. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa butir soal sudah mampu mengukur kesesuaian butir soal dengan tujuan pembelajaran. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil penelitian dengan ditemukan sebanyak 26 butir soal telah sesuai dengan tujuan pembelajaran pada kurikulum yang berlaku, 3 butir soal tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran dan 1 butir soal yang tidak disebutkan dalam rumusan tujuan pembelajaran. Dan dalam aspek kognitif terdapat penyebaran soal belum sesuai dengan proporsi penyebaran soal yang baik, karena jumlah persentase yang sesuai proporsi hanya sebaran soal penerapan (C3) yaitu dengan persentase 30%, sedangkan untuk sebaran soal pengetahuan (C1) melewati batas proporsi penyebaran soal yang baik yaitu dengan persentase 36,67% dan sebaran soal pemahaman (C2) dengan persentase 33,33% masih jauh dari proporsi kriteria penyebaran soal yang baik.

Kata Kunci: Butir Soal, Tujuan Pembelajaran

Download Full Article PDF

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save